Memang rasa marah pasti wajib ada bagi tiap manusia, seperti sebuah ungkapan lucu “hanya keledai yang tidak marah disaat dia marah, tau kenapa??? Karena amarah keledai tapi selalu mengeluarkan suara seperti orang tertawa.”
Pernah anda lihat keledai ngamuk sambil teriak-teriak.. “Oii… Anjing.. Oi.. Babi…” paling suara yang keluar adalah “Tehehehehe… (Maaf saya bukan keledai, jadi kurang bisa meniru suara keledai).
Kembali lagi soal amarah, betapa buruk sekali akibatnya, ketika kita marah tekanan darah kita meningkat, dada serasa terbakar, akal sehat menjadi hilang, hingga sering sekali kita lihat berita ditelevisi banyak terjadi pembunuhan yang diakibatkan karena amarah yang tidak terkontrol.
Bagaimana kita agar tidak mudah marah? Jadilah orang yang selalu berpikir positif, biasakan diri menjadi jiwa yang peramah, humoris, dan tertawa. Ya.. Tertawa bisa membawa energi positif bagi diri kita dan orang disekitar kita. Tawa bisa mencairkan suasana kaku menjadi lebih ceria.
Seperti humor berikut ini, betapa amarah malah mendatangkan penilaian yang buruk bagi diri kita. Dikisahkan seperti ini
“Seorang lelaki berpakaian jas lengkap dan perlente sedang berjalan kaki menuju ke suatu tempat, ketika secara tiba-tiba seorang anak muncul di hadapannya dan bertanya:
Maaf om, bole tanya kan?. Sekarang ini jam berapa sih?
Lelaki tersebut melipat lengan kirinya di depan dada, melihat jam tanganya dan berkata:
Sekarang jam tiga kurang seperempat.
Si anak mengucapkan terima kasih, lalu berkata: Tepat jam tiga nanti om boleh mencium pantat saya. katanya sambil melarikan diri.
Lelaki perlente tersebut merasa dilecehkan dan mengejar si anak untuk memberi pelajaran.
Ketika sedang berlari mengejar, seorang rekan kantor menghentikanya.
Ada apa kamu lari-lari begitu? tanya rekan tersebut.
Sambil menunjuk si anak, lelaki perlente bercerita: Anak itu bertanya jam berapa, lalu aku jawab jam tiga kurang seperempat,..eeee.. dia bilang jam tiga tepat aku boleh mencium pantatnya.
Temannya melihat jam dan berkata:Lho, masih sepuluh menit lagi, kenapa buru-buru?.”
Benar, si pria parlente itu merasa tersinggung dan ingin sekali membalas keisengan anak kecil tersebut, hingga akhirnya temannya pun memiliki praduga yang salah terhadapnya. Bisa jadi dia dianggap serius untuk mencium pantat anak kecil tersebut.















